Sekularisasi itu Alarm

Sekularisasi itu Alarm

Bagi para penentangnya, konsep sekularisasi dianggap anti-agama (Islam). Sekularisasi berarti meminggirkan agama dari kehidupan sosial. Konsep khas Barat itu mempersempit ruang gerak Islam. Nabi Muhammad adalah rasul sekaligus pimpinan politik. Tak ada pemisahan antara agama dan politik, negara. Bagi mereka, Islam datang untuk mengubah perilaku manusia di berbagai lini kehidupan.

Kalangan itu meyakini bahwa sekularisasi Cak Nur adalah proses sosial-politik menuju sekularisme. Tak ada lain implikasi paling kuat dari sekularisme adalah gagasan pemisahan total agama dari negara.

Sejak awal, Cak Nur sudah mewanti-wanti bahwa sekularisasi yang dimaksudkannya bukanlah sekularisme. Dalam makalah pidatonya bertajuk “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Penyegaran Kembali Pemahaman Keagamaan” yang disampaikan 2 Januari 1970 itu, ia menegaskan bahwa sekularisasi yang ia maksud bukanlah sebagai penerapan sekularisme.

Sekularisme adalah ideologi tertutup yang meminggirkan agama dalam berbagai ranah kehidupan: sosial, ekonomi, politik, budaya. Adapun sekularisasi ialah suatu proses yang tiada henti untuk menduniawikan nilai-nilai yang semestinya duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan mensakralkannya, meng-ukhrawi-kannya.

Saripati Tauhid

Dari definisi itu, Cak Nur dengan konsep sekularisasinya berupaya untuk memuliakan Allah dengan segala keagungan-Nya. Jika diperas, saripati sekularisasi Cak Nur adalah tauhid.

Tauhid berarti mengesakan Tuhan. Konsekuensi ajaran tauhid adalah penyerahan diri total pada-Nya. Hanya Allah yang sakral. Hanya Allah yang patut disembah, dan cuma pada-Nya pula kita bergantung dan berserah diri. Selain-Nya adalah profan dan sementara. Dunia beserta segala ciptaan di dalamnya tak ada yang abadi. Semuanya terkena hukum alam: perubahan dan pembaruan.

Banyak orang alpa dan tak menyadari bahwa harta, tahta, martabat, ras, ideologi, partai, juga pemimpin atau majikan, sering dijadikan tuhan-tuhan dan berhala-berhala baru di muka bumi. Konsep sekularisasi itu semacam alarm yang terus mengingatkan kita pada ajaran tauhid.

Sebagai sebuah proses, sekularisasi tak pernah mencapai titik nadir. Setiap umat manusia tak pernah akan selesai bergelut dengan tuhan-tuhan dan berhala-berhala baru dalam rentang waktu hidupnya.

Tak Alergi

Turunan dari gagasan sekularisasi Cak Nur adalah “Islam, yes, partai Islam, no”. Berislam tak mesti mendukung partai Islam. Partai Islam bukanlah tujuan yang mesti dikuduskan. Yang terpenting adalah substansinya: memperjuangkan keadilan.

Berbagai fakta menunjukkan bahwa ketika Islam dibawa-bawa ke dunia politik rentan akan terjadinya politisasi agama. Islam dijadikan dagangan politik untuk meraih kekuasaan dan melanggengkan kepentingan seseorang atau kelompok tertentu. Tak heran, politisi dari partai Islam pun tak sedikit yang terjerat kasus korupsi dan beragam skandal lainnya.

Islam terlalu sempit untuk dijadikan ideologi politik. Islam menjadi sekterian, tidak lagi menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatan li al-‘alamin. Dalam pertarungan politik, kawan bisa menjadi lawan dalam hitungan detik. Begitu pun sebaliknya.

Cak Nur tak alergi dengan partai Islam. Bahkan ia pernah menjadi juru kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Lagi-lagi turunan gagasan sekularisasi Cak Nur ini adalah alarm.

Cak Nur sadar bahwa dalam demokrasi setiap aspirasi mesti dihargai. Partai berbasis agama punya hak yang sama dengan partai lainnya untuk hidup dan berkembang selama masih dalam rel aturan main yang sehat.

Bagi Cak Nur, perbedaan itu bukan untuk diberangus, tapi dirayakan. Perbedaan itu tak perlu menghapuskan kebersamaan, tapi harus ditanggapi sebagai modal bersama untuk berbagai kebajikan. Masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis seperti yang dicita-citakan bersama tak akan terwujud tanpa nilai-nilai dasar toleransi, pluralisme, dan kebebasan yang menjadi fondasinya. Begitulah petuah terakhir Cak Nur dua minggu sebelum guru bangsa ini wafat.

Madinah Modern

Cak Nur kembali menegaskan penolakannya terhadap ideologisasi Islam dalam perwujudan negara Islam. Bagi Cak Nur, perwujudan negara yang adil, terbuka, dan demokratis jauh lebih penting ketimbang terjebak pada formalisasi agama dalam wujud negara Islam.

Bagi Cak Nur, “negara” Madinah bukanlah negara Islam. Dalam Indonesia Kita (2004), ia menyebutkan bahwa negara Madinah adalah cikal-bakal gagasan “negara-bangsa” (nasion-state), bahkan pelaksanaan penuhnya secara nyata di zaman rasul. Tujuan negara-bangsa ialah mewujudkan maslahat umum. Suatu konsep tentang kebaikan bersama yang meliputi seluruh warga negara tanpa kecuali melalui kontrak sosial.

Mengutip Robert N. Bellah, Cak Nur menegaskan bahwa sistem masyarakat Madinah pada masa nabi dan para khalifah pada waktu itu adalah suatu contoh bangunan komunitas nasional modern yang lebih baik daripada yang dibayangkan. Disebut modern karena ada keterbukaan bagi partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan juga lantaran adanya kesediaan para pemimpin untuk menerima penilaian berdasarkan kemampuan, bukan atas kenisbatan keturunan, kekerabatan atau kesukuan.

Gejala euphoria pendirian negara Islam datang belakangan. Kata Cak Nur, ada dua hal yang melatarinya: tandingan atas ideologi-ideologi Barat yang sekuler dan alternatif sistem hukum negara berbasis syariat. Keduanya mengindikasikan satu hal bahwa umat Islam dilanda ketidakberdayaan menghadapi invasi kultural dalam berbagai aspek: politik, sosial, ekonomi, budaya.

Negara Madinah adalah perwujudan Islam rahmatan li al-‘alamin, tanpa terjebak pada formalisasi syariah yang kaku. Visi etis Islam secara nyata dapat ditemukan di negara Madinah, dengan menjamin hak dan kebebasan orang dan kelompok yang berbeda.

Kerangkeng Agama

Kalau sekularisasi beserta turunannya itu saripati tauhid kenapa mesti mengunakan istilah atau konsep Barat? Ya, sekularisasi adalah produk Barat. Apakah dengan begitu kita menolak mentah-mentah apa saja yang dari Barat? Tak semuanya yang dari Barat adalah buruk.

Tuhan memberikan anugerah terbesar bagi manusia berupa akal. Dengannya, kita bisa memilah mana yang baik dan perlu diadopsi, dan mana yang tidak. Peradaban Islam yang pernah jaya pun juga pertama-tama mengadopsi sisi baik peradaban Yunani dalam bidang keilmuannya.

Gagasan sekularisasi Cak Nur adalah sebuah ikhtiar untuk memahami pesan agung Islam yang ia himpun dari berbagai disiplin keilmuan, khususnya ilmu agama dan sosial.

Cak Nur sangat sadar bahwa konsep sekularisasi berserta turunannya sangat rentan disalahpahami. Kata sekular(isme) telah terlanjur buruk di mata masyarakat. Karena sedemikian kontroversialnya istilah “sekular”, “sekularisasi” dan “sekularisme” itu, seperti termaktub dalam Ensiklopedi Nurchlish Madjid, Cak Nur menyarankan bahwa akan lebih bijaksana untuk tidak menggunakan istilah-istilah tersebut, dan lebih baik menggantikannya dengan istilah teknis lain yang lebih tepat dan netral. Bagi Cak Nur, yang terpenting adalah esensi pesannya. Istilah bisa diubah apa saja.

Kekhawatiran Cak Nur, tentu, masuk akal. Sebuah istilah atau gagasan itu bersifat multitafsir. Tak jarang disalahartikan. Tapi, sekularisasi sudah kadung dilekatkan dengan sosok Cak Nur. Bukan saatnya lagi untuk mengganti istilah itu.

Sepanjang hidupnya, Cak Nur menggaungkan alarm sekularisasi. Sekularisasi adalah kunci untuk membuka kerangkeng agama. Nilai-nilai dasar dan visi etis dan moral Islam mesti dihidupkan kembali di zaman modern. Formalisasi dan ideologisasi agama bukan hanya mengerangkeng agama, tapi juga rentan menjadi tirani, tuhan atau berhala dunia yang bertentangan dengan Islam. Dengan sekularisasi, Cak Nur menunjukkan bahwa Islam itu tak lekang oleh ruang dan waktu (shalihun li kulli makan wa zaman).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *